Halaman Lain

Kamis, 10 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid?



InfoMedokanAyu - Di sudut pemukiman padat Medokan Ayu, tepatnya di Medokan Kampung RW02, berdiri sebuah tempat ibadah yang memiliki sejarah panjang: Musala Imaduddin—yang kini dikenal sebagai Masjid Imaduddin.

Pertanyaan mendasar yang hendak dijawab dalam tulisan ini adalah: kapan rintisan Imaduddin masih berbentuk musala, dan kapan berubah menjadi masjid?

Tulisan ini berupaya menelusuri jejak awal Imaduddin sejak masih berupa musala kecil, jauh sebelum berbentuk masjid pada 1962. 

Di sekitar tempat ibadah ini terdapat tiga entitas sejarah yang saling terkait erat namun berada di lokasi berbeda. 

Di sisi utara, kurang dari seratus meter dari musala, terdapat Makam Pahlawan yang menjadi saksi perjuangan para ulama melawan agresi Belanda. 

Sementara di sisi selatan, sekitar tiga ratus meter dari musala, terbentang Makam Islam RW02 yang menyimpan makam Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun beserta keluarganya—sosok yang berperan sentral dalam pendirian musala tersebut.

Ketiganya bagaikan kepingan puzzle yang jika dirangkai akan membentuk narasi panjang tentang perjuangan, keteguhan iman, dan kontinuitas kepemimpinan spiritual di kawasan Surabaya Timur. 

Namun, dokumen tertulis yang utuh nyaris tidak tersedia. Tak ada angka tahun yang terukir pada nisan para pejuang. Tak ada prasasti yang memastikan kapan tepatnya musala kecil itu pertama kali berdiri. 

Yang ada hanyalah jejak-jejak samar—sebuah makam bertahun 1889, kelahiran seorang cucu pada 1940, pengakuan resmi pemerintah pada 1997, dan tonggak penting tahun 1962 ketika musala berubah menjadi masjid yang dipugar oleh KH. Yusuf Manan.

Tulisan ini berupaya menelisik sejarah tersebut secara kritis, menyajikan fakta-fakta yang terverifikasi, analisis logis atas kekosongan data, serta refleksi tentang makna warisan sejarah ini bagi masyarakat Medokan Ayu dewasa ini.

Bab 1: Dua Makam di Medokan Kampung
Pada akhir abad ke-19, kawasan Medokan Ayu masih berupa hamparan sawah dan tambak. Pemukiman hanya terkonsentrasi di Medokan Kampung, yang kini dikenal sebagai RW02. Di kawasan ini terdapat dua kompleks makam yang hingga kini masih dihormati.

Makam Pahlawan terletak di sisi utara musala, kurang dari seratus meter jaraknya. Di kompleks inilah tiga ulama pejuang—KH. Asmadi, KH. Hardjo, dan KH. Kunawi—dimakamkan. 

Makam ini menjadi saksi perlawanan rakyat Surabaya terhadap agresi Belanda. Keberadaannya yang sudah ada sejak sebelum musala berdiri menjadikannya faktor penentu bagi izin pendirian musala di masa kolonial. 

Pemerintah Hindia Belanda menerapkan regulasi ketat terhadap pendirian rumah ibadah. Salah satu syaratnya adalah adanya makam di dekat lokasi yang akan dijadikan tempat ibadah. 

Makam Pahlawan di sisi utara inilah yang menjadi pintu masuk administratif bagi Sayyid Zein untuk mengajukan izin pendirian musala.

Makam Islam RW02 terletak di sisi selatan musala, sekitar tiga ratus meter jaraknya. Di kompleks inilah Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun beserta keluarganya dimakamkan. 

Makam ini baru ada setelah Sayyid Zein wafat pada 1889. Keberadaannya kemudian menjadi kompleks pemakaman keluarga yang dihormati hingga kini. Kawasan ini juga sebagai pemakaman umum.

Karena baru ada setelah wafatnya Sayyid Zein, makam ini tidak mungkin menjadi faktor penentu izin pendirian musala yang dirintis saat Sayyid Zein masih hidup.

Dua makam yang berbeda lokasi ini, utara dan selatan musala, menyimpan narasi yang saling melengkapi tentang perjalanan panjang perjuangan dan dakwah di Medokan Ayu.

Bab 2: Sayyid Zein—Sosok Sentral di Balik Musala
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun adalah tokoh berdarah Arab yang tidak hanya dikenal sebagai hartawan, tetapi juga santri dan tokoh masyarakat yang disegani. 

Pada zamannya, ia adalah figur berpengaruh—baik karena garis keturunan, kharisma pribadi, maupun posisi ekonomi yang mapan. 

Kharisma dan pengaruhnya menjadikannya motor penggerak utama dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk pendirian sarana ibadah.

Sayyid Zein memiliki putra bernama KH. Abdullah Manan. Dalam rangka memperkuat jaringan keluarga dan dakwah, Sayyid Zein kemudian berbesan dengan KH. Hamzah Murtadlo—seorang ulama terpandang dari Kendalsari—dengan cara menjodohkan putranya, KH. Abdullah Manan, dengan putri KH. Hamzah Murtadlo yang bernama Salamah binti Hamzah Murtadlo. 

Dari situ, terjalinlah hubungan perbesanan yang erat antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadlo. Jaringan ini menjadi fondasi sosial yang kuat bagi kegiatan keagamaan dan perjuangan di Medokan Ayu.

Berdasarkan data makam, Sayyid Zein wafat pada hari Selasa, 19 Maret 1889, bertepatan dengan 17 Rajab 1306 Hijriah. Jenazahnya dimakamkan di Makam Islam RW02, sekitar tiga ratus meter di sisi selatan Musala Imaduddin. Di lokasi yang sama, juga dimakamkan keluarganya.

Dengan tanggal wafat Sayyid Zein yang jelas, kita dapat menarik batas maksimal pendirian musala: harus terjadi sebelum 1889. 

Untuk mempersempit rentang waktu, kita merujuk pada putra tunggalnya, KH. Abdullah Manan, yang wafat pada 1999. Jika ia lahir sekitar 1880-an, maka pada masa pendirian musala ia masih bocah dan mungkin menyaksikan perjuangan ayahnya.

Dua skenario logis muncul. Skenario pertama, yang paling kuat secara historis, adalah musala didirikan oleh Sayyid Zein sebelum 1889, kemungkinan besar akhir 1870-an hingga pertengahan 1880-an. 

Pada masa itu, Sayyid Zein masih hidup, dan Makam Pahlawan di sisi utara telah ada sebagai syarat administratif izin pendirian. 

Skenario kedua, yang kurang didukung bukti, adalah musala didirikan oleh generasi penerus setelah Sayyid Zein wafat sebagai amal jariyah. 

Pendirian musala sebelum 1889 oleh Sayyid Zein adalah skenario yang paling dapat dipertanggungjawabkan.

Bab 3: Peran Jaringan Keluarga dalam Pemakaman Tiga Pejuang
Di Makam Pahlawan sisi utara, terdapat tiga nisan berjajar rapat. Ketiganya adalah ulama sekaligus pejuang yang gugur dalam perlawanan terhadap agresi Belanda. 

Keberadaan Makam Pahlawan di sisi utara—yang telah ada sebelum musala berdiri—menunjukkan bahwa kompleks pemakaman ini telah menjadi bagian penting dari lanskap Medokan Kampung sejak awal. 

Makam inilah yang kemudian menjadi syarat administratif bagi Sayyid Zein saat mengajukan izin pendirian musala di masa kolonial.

Sangat dimungkinkan bahwa generasi penerus Sayyid Zein—KH. Abdullah Manan dan mertuanya KH. Hamzah Murtadlo—berperan penting dalam merawat dan menjaga kompleks Makam Pahlawan di sisi utara musala. 

Hal ini memperkuat dugaan bahwa jaringan keluarga yang terbentuk melalui perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadlo tidak hanya berperan dalam pendirian sarana ibadah, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom tradisi pemakaman para pejuang di kawasan tersebut.

Hubungan perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadlo—yang dijodohkan untuk menyatukan putra dan putri mereka—menjadi bukti nyata bagaimana ikatan keluarga diperkuat demi kelangsungan dakwah dan perjuangan. 

Perjodohan ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan strategi sosial untuk membangun jaringan ulama yang solid di kawasan Surabaya Timur.

Bab 4: Jejak Generasi Kedua dan Isyarat Tahun
KH. Yusuf Manan, generasi kedua dari perintis musala, adalah putra KH. Abdullah Manan dan cucu Sayyid Zein. Ia lahir pada 1940, saat gelora kemerdekaan mulai bergema—lima tahun kemudian Indonesia merdeka.

Fakta kelahiran ini memberi isyarat penting: para pahlawan di sisi utara telah gugur sebelum 1940. 

Musala Imaduddin yang berdiri sejak akhir abad ke-19 berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang turut mendukung perjuangan kemerdekaan.

Bab 5: Tiga Nisan Berjajar di Sisi Utara
Di Makam Pahlawan sisi utara, tiga nisan berjajar sangat rapat. KH. Asmadi adalah guru atau ulama senior dengan peran sentral dalam bimbingan spiritual dan kepemimpinan perjuangan. 

KH. Hardjo, muridnya, turut serta dalam perlawanan fisik dan dimakamkan di sisi guru. KH. Kunawi, juga murid, berjuang bersama di Tambak Oso dan Medokan Ayu.

Sayangnya, pada nisan tidak ada tulisan selain nama. Tak tercantum tahun kelahiran atau wafat. Ketiadaan data ini menyulitkan penelusuran kronologi. 

Namun dari berbagai isyarat—kelahiran KH. Yusuf Manan pada 1940 dan fakta mereka gugur dalam agresi Belanda—dapat dipastikan mereka gugur sebelum kemerdekaan.

Pemerintah Kota Surabaya memberikan pengakuan resmi terhadap makam ini. Peresmian Makam Pahlawan menjadi bukti bahwa perjuangan ketiga tokoh diakui negara. 

Ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Medokan Ayu, bahwa sejarah perjuangan di kampung mereka bukan sekadar cerita lisan, melainkan bagian dari sejarah resmi bangsa.

Bab 6: Tonggak 1962—Dari Musala Menjadi Masjid
Inilah inti penelusuran artikel ini: kapan rintisan Imaduddin masih berbentuk musala, dan kapan berubah menjadi masjid?

Dari berbagai jejak yang berhasil dirangkai, dapat disimpulkan bahwa Imaduddin telah berdiri sebagai musala sejak akhir abad ke-19, tepatnya sebelum 1889, pada dekade 1870-an hingga 1880-an. 

Selama puluhan tahun—melintasi pergantian abad, masa perjuangan kemerdekaan, hingga awal kemerdekaan—tempat ibadah ini tetap berbentuk musala kecil yang sederhana.

Tonggak penting terjadi pada tahun 1962. Pada tahun inilah musala tersebut berubah bentuk menjadi masjid. Perubahan ini dipugar—dalam arti dibangun ulang dan diperbesar—oleh KH. Yusuf Manan, cucu Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun, putra KH. Abdullah Manan dan Salamah. 

KH. Yusuf Manan lahir pada 1940, sehingga pada 1962 ia berusia sekitar 22 tahun—usia muda yang penuh semangat untuk melanjutkan estafet perjuangan kakeknya.

Dengan demikian, rentang waktu Imaduddin sebagai musala berlangsung kurang lebih 70 hingga 80 tahun, yaitu dari sekitar 1870-an–1880-an hingga 1962. Barulah setelah 1962, tempat ibadah ini menyandang status masjid hingga sekarang.

Pemugaran oleh KH. Yusuf Manan pada 1962 ini bukan sekadar perubahan fisik bangunan, melainkan juga penanda kematangan sebuah rintisan spiritual yang telah ditanam Sayyid Zein hampir satu abad sebelumnya. 

Estafet kepemimpinan—dari Sayyid Zein ke KH. Abdullah Manan, lalu ke KH. Yusuf Manan—menunjukkan kontinuitas yang kuat dalam menjaga dan mengembangkan sarana ibadah ini.

Bab 7: Refleksi—Musala sebagai Simbol Perjuangan dan Kontinuitas
Dari rentetan fakta terbatas namun saling menguatkan, dapat ditarik benang merah yang kuat.

Pertama, Makam Pahlawan di sisi utara—yang telah ada sebelum musala berdiri—adalah faktor penentu bagi pengurusan izin resmi pendirian musala di masa kolonial. 

Keberadaannya menjadi syarat administratif yang dipenuhi Sayyid Zein saat mengajukan izin. Makam Islam RW02 di selatan belum ada pada masa itu, karena baru muncul setelah Sayyid Zein wafat pada 1889.

Kedua, Makam Islam RW02 di selatan adalah makam keluarga Sayyid Zein, yang baru ada setelah ia wafat pada 1889. Keberadaannya kemudian menjadi kompleks pemakaman keluarga pendiri—bukan faktor penentu izin pendirian musala.

Ketiga, Musala Imaduddin didirikan Sayyid Zein sebelum 1889, kemungkinan dekade 1870-an–1880-an, saat putranya masih bocah. 

Itu menjadikannya salah satu tempat ibadah tertua di Surabaya Timur, yang berbentuk musala selama kurang lebih 70–80 tahun sebelum akhirnya menjadi masjid pada 1962.

Keempat, perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadlo—yang dijodohkan untuk menyatukan putra dan putri mereka—menunjukkan bahwa perjuangan dan dakwah di kawasan ini tidak hanya dilakukan secara individu, melainkan melalui strategi keluarga dan jaringan ulama yang saling mendukung.

Kelima, pemugaran musala menjadi masjid oleh KH. Yusuf Manan pada 1962 menandai babak baru dalam sejarah Imaduddin. 

Dari rintisan Sayyid Zein yang sederhana, tempat ibadah ini tumbuh menjadi masjid yang kokoh—monumen hidup yang menghubungkan masyarakat Medokan Ayu dengan ingatan kolektif tentang perjuangan tiga ulama di utara, peran sentral Sayyid Zein di selatan sebagai pendiri, serta kontinuitas perjuangan dari generasi ke generasi melalui jaringan keluarga yang diperkuat oleh perbesanan antarulama.

Kesimpulan Historis: Kapan Musala Berdiri, Kapan Menjadi Masjid?
Meskipun tahun pasti berdirinya musala belum terungkap, kombinasi tahun wafat Sayyid Zein (1889) sebagai batas akhir, kelahiran KH. Yusuf Manan (1940), masa agresi Belanda, dan isyarat para pahlawan gugur sebelum 1940, memberi petunjuk kuat bahwa musala berdiri pada akhir abad ke-19, tepatnya sebelum 1889, sekitar 1870-an–1880-an.

Tempat ibadah ini berbentuk musala selama kurang lebih 70–80 tahun, hingga akhirnya pada 1962 berubah menjadi masjid melalui pemugaran yang dilakukan oleh KH. Yusuf Manan, cucu Sayyid Zein.

Keberadaan dua makam di dua sisi berbeda—Makam Pahlawan di utara sebagai faktor administratif izin pendirian, dan Makam Islam RW02 di selatan sebagai makam keluarga pendiri—semakin memperkuat narasi bahwa musala ini telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial sejak akhir abad ke-19, jauh sebelum berubah menjadi masjid pada 1962.

Penelusuran lebih lanjut masih dibutuhkan melalui arsip kolonial Belanda, catatan lisan sesepuh kampung, serta dokumen keluarga—terutama untuk memastikan angka tahun pasti pendirian musala dan detail proses pemugaran 1962.

---

Penutup: Sejarah yang Tak Lekang oleh Waktu

Sejarah tidak selalu hadir dalam angka dan tanggal gamblang. Kadang ia tertulis dalam nisan tanpa tahun, dalam musala yang berdiri di antara dua makam, dan dalam ingatan yang diwariskan turun-temurun.

Makam Pahlawan di utara, Makam Sayyid Zein di Makam Islam RW02 selatan, dan Imaduddin—yang pernah berbentuk musala dan kini menjadi masjid—adalah tiga sisi dari keping sejarah yang sama: tentang keberanian, pengorbanan, dan keteguhan iman di tengah tekanan penjajahan, yang dirintis Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun—dilanjutkan putranya KH. Abdullah Manan, besannya KH. Hamzah Murtadlo, dan cucunya KH. Yusuf Manan yang memugar musala menjadi masjid pada 1962.

Perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadlo—yang menjodohkan putra dan putri mereka—bukan sekadar urusan personal, melainkan strategi cerdas untuk membangun jaringan dakwah dan perjuangan yang kokoh. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh individu, tetapi oleh ikatan-ikatan sosial yang diperkuat lintas generasi.

Seruan: Menggali Lebih Dalam
Sudah saatnya menggali lebih dalam melalui riset arsip dan wawancara generasi tua, membuka arsip kolonial dan catatan keluarga, mendokumentasikan sejarah lisan sebelum sesepuh berpulang, dan menjadikan Masjid Imaduddin sebagai pusat edukasi sejarah bagi generasi muda. Agar tahun berdirinya musala dan tahun perubahan menjadi masjid tidak terus menjadi tanda tanya. Agar perjuangan KH. Asmadi, KH. Hardjo, KH. Kunawi, dan jasa Sayyid Zein, KH. Abdullah Manan, KH. Hamzah Murtadlo, serta KH. Yusuf Manan tidak hanya dikenang sebagai nama di atas batu, tetapi sebagai teladan hidup dalam denyut nadi masyarakat Medokan Ayu hingga kini.

Ringkasan Data Penting
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun wafat pada Selasa, 19 Maret 1889 (17 Rajab 1306 H). Makamnya di Makam Islam RW02, 300 meter selatan Imaduddin. 

Musala didirikan sebelum 1889, kemungkinan 1870-an–1880-an, saat Sayyid Zein masih hidup. Faktor administratif izin pendirian musala adalah keberadaan Makam Pahlawan di sisi utara yang telah ada sebelum musala berdiri. 

Makam Islam RW02 belum ada pada masa pendirian musala, karena baru muncul setelah Sayyid Zein wafat pada 1889.

KH. Abdullah Manan adalah putra tunggal Sayyid Zein. Lahir sekitar 1880-an, wafat 1999. 

Sayyid Zein berbesan dengan KH. Hamzah Murtadlo dari Kendalsari dengan cara menjodohkan putranya KH. Abdullah Manan dengan putri KH. Hamzah Murtadlo, Salamah. Dari pernikahan ini lahirlah KH. Yusuf Manan pada 1940.

Tiga pejuang—KH. Asmadi, KH. Hardjo, KH. Kunawi—gugur sebelum 1940 dan dimakamkan di sisi utara musala, kurang dari 100 meter. Kini menjadi Makam Pahlawan.

Tahun 1962 menjadi tonggak penting: musala berubah menjadi masjid melalui pemugaran yang dilakukan oleh KH. Yusuf Manan.

Silsilah Keluarga
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun berputra KH. Abdullah Manan. Sayyid Zein kemudian berbesan dengan KH. Hamzah Murtadlo (Kendalsari) dengan cara menjodohkan putranya, KH. Abdullah Manan, dengan putri KH. Hamzah Murtadlo, Salamah. 

Dari pernikahan ini lahir KH. Yusuf Manan (1940)—yang pada 1962 memugar musala menjadi masjid—dan generasi selanjutnya. Sayyid Zein wafat 1889, dimakamkan di Makam Islam RW02 selatan.


Tagar

#SejarahSurabaya #MasjidImaduddin #MusalaImaduddin #MakamPahlawan #MedokanAyu #SejarahIslam #PerjuanganUlama #WarisanBudaya #SurabayaTimur #AgresiBelanda #SejarahLokal #SayyidZein #MakamRW02 #KearifanLokal #SejarahNusantara #SilsilahUlama #KHYusufManan #Tonggak1962

---